Label

friendship (4) knowledge (2) letter (2) literature (18) me (9) memories (9) miscellaneous (8) My Music (3) opinion (3) past (27) Tugas Kuliah (2)
Tampilkan postingan dengan label literature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literature. Tampilkan semua postingan

Kita Pernah

Saat kau memperlakukannya bak putri raja
Kau juga pernah melakukan itu padaku
Saat kau belai lembut rambutnya
Kau juga pernah melakukan itu padaku
Saat kau menggenggam erat jemarinya
Kau juga pernah melakukan itu padaku
Saat kau memeluk erat tubuhnya
Kau juga pernah melakukan itu padaku
Saat kau mencium lembut pipinya
Kau juga pernah melakukan itu padaku
Saat kau mengucap janji manis setia
Kau juga pernah melakukan itu padaku
Saat kau membelai lembut wajahnya
Kau juga pernah melakukan itu padaku
Saat kau bercengkrama dengannya hingga larut malam
Kita juga pernah melakukan itu bukan?

Namun, kau takkan pernah menemukan sosokku pada wanita lainnya.
Takkan pernah.

Senja itu.

Sejak kejadian itu
Meninggalkan bekas luka yang menganga dalam
Dan memecahkan hati, menjadi serpihan, berserakan di setiap langkahku
Dan mengenai kakiku di setiap langkahku
Perih di setiap pagi..
Dan aku mulai tak percaya lagi dengan kata "cinta"
Dan aku mulai melenyapkan diriku, dari setiap laki2 yang mendekatiku
Termasuk kamu.

Kamu,
Tiba-tiba hadir
Memperlakukanku bak putri raja
Menjagaku bagai batu pualam kristal yang sangat berharga
Melindungiku bagai permata

Tapi ku terus menyangkal
Menyangkal setiap perasaan yang sedikit demi sedikit menjalar ke hatiku
Perasaan yang pernah membuatku bertingkah bodoh dan bertahan
Perasaan yang pernah membuatku membiarkan dia menghancurkan semuanya
Perasaan yang berhasil membuatku mengorbankan semuanya

Dan kamu tidak menyerah.
Kamu terus menggoyahkan tembok yang kubangun
Semua kamu lakukan

Termasuk senja itu, lengan2 besarmu menjalar di tengkukku
Merangkul pundakku dengan lembut

Jemarimu mengelus kepalaku dengan mesra, berusaha menggoyahkanku
Berusaha menghancurkan pertahananku

Dan senja itu, kurasakan lembut di puncak kepalaku
Seketika dunia berhenti berputar
Dan ku tersadar, kau menciumku.

Ciumanmu lembut, menenangkan, sekaligus menghancurkan tembok yang kubuat sendiri
Tembok yang selama ini kubangun, agar tak ada lagi yang berhasil mematahkanku
Tembok yang kubangun setinggi mungkin agar tak ada lagi laki2 yang berhasil memanjatnya

Namun kamu berbeda.
Kamu berhasil menghancurkan tembok yang kubuat dengan susah payah
Dan ku tak bisa menyangkal lagi

Senja itu ku tersadar,
Ku mencintaimu.

Saat hujan

Ku benci saat
Saat selasa menamparku
dalam diksi
Saat ingatan itu menamparku hingga pedih
Hingga pening
Lalu basah
Dan mati rasa.

Kita

Kita seperti...
Seperti dedaunan di ujung pohon senja
Hijau, menguning, dan merenggas.
Hijau, tumbuh, dan dimakan binatang melata.
Hijau, besar, lalu lenyap.
Sama seperti kita..
Utuh, pisah, lepas, dan menyatu kembali
Dan saat badai datang, kita terhempas kembali

Sebuah Elegi Tentang Rindu

Oleh Ayub Ryan p
Entah bagaimana Tuhan menciptakan rindu
sebab yang kurasa hanya sendu
kemudian hanyut menjadi debu
Yang dibawa gelombang biru
Mungkin dari pilu Ia ciptakan rindu
Kemudian dianyam pakai sembilu
Berubah jadi alunan puisi nan syahdu
Yang melantun bahkan saat lindu.
Beruntung Tuhan menciptakan rumah bagi rindu
Agar ia bisa pulang, melabuhkan keluh
Meski akan kembali bersauh,
Meninggalkan sekotak gemuruh.
Sayangnya, rindu tak pandai berhitung
Parahnya lagi, ia selalu curang
Semakin lebar jarak, semakin cepat debar jantung
Selalu bertambah porsinya, tak jua berkurang
Nahas, rindu juga bikin candu
Lebih dari sebatang rokok yang biasa kuhisap
Makin jarang berjumpa semakin rindu
Makin sering berjumpa semakin meresap.
Aku harap semua rindu menemukan rumah
Agar tak jatuh korban; sebab rindunya tersesat tak bisa pulang
Aku harap rindu ini juga punya rumah
Agar tak harus kubakar bersama arang
Semoga kita tak berakhir menjadi sepasang rindu
Yang saling melepaskan diri dari rasa candu.
Yang pernah mengisi relung hati, 8 Juli 2014. Bencilah aku sebisa yang kau mampu. Rasakan rinduku menyayat perih hati. Seperih apapun, ku tetap mencintaimu. Relakan kasih, lepaskanlah. Agar kau tenang.

Kamu.

"Sanggupkah kamu menghentikan semua ini saat semua masih terasa indah, meski kau tahu semua akan berakhir pahit?"

"Melepaskanmu itu adalah luka yang baru, setelah kepergianmu kemarin"

"Aku masih mengingatmu sebagai orang yang pernah aku cinta, bukan sebagai orang yang pernah menaruh luka"

Dwitasari :): Kadang, Kisah cinta tak hanya milik DUA ORANG

Dwitasari :): Kadang, Kisah cinta tak hanya milik DUA ORANG

"Mencintai jadi begitu menakutkan jika kamu adalah pihak ketiga, penghancur segalanya"


Aku bahkan tak mengerti bagaimana statusku dengan dia. Dia dengan istrinya dan aku juga bersamanya. Aku tak peduli bagaimana mempersepsikan statusku, sebagai simpanan atau bahkan sebagai penghancur hubungan orang, tapi toh tidak separah itu. Aku tak menuntut banyak hal darinya, kami saling mencintai dan pentingkah status? Aku rasa tidak.
Lupakan makan malam romantis, berbagi coklat manis, atau bahkan tanganmu menghapus air mataku saat menangis. Aku hanya kau temui secara sembunyi-sembunyi, saat kau meninggalkan pekerjaanmu hanya untukku atau saat kau tidak bersama dengan istrimu. Dalam waktu yang sangat singkat itu, aku berharap bisa terus menahanmu, karena aku benci selalu jadi prioritas kedua, karena aku benci harus kehilangan kamu saat aku benar-benar membutuhkanmu.

Ada saat-saat dalam hidupku, saat aku tetap meyakini bahwa ini hanya sementara. Aku masih meyakini suatu saat aku akan menjadi satu-satunya untuk selamanya dalam hidupmu, kamu akan menangis memelukku saat aku mengenakan gaun pengantin, kamu akan menjadi satu-satunya orang yang aku lihat saat aku terbangun dari mimpi, kita akan bahagia. Aku masih menyakini bahwa aku tidak selamanya jadi yang kedua, aku tidak selamanya akan terus kausembunyikan. Aku masih sibuk merancang mimpi indah untuk hubungan kita, walaupun kutahu kau tak pernah menghabiskan waktumu hanya untuk memikirkan akhir dari hubungan kita. Aku benci saat-saat kaumenghancurkan mimpiku dengan mengatakan bahwa kautak mungkin meninggalkan istrimu dan juga takkan mungkin meninggalkanku. Aku benci harus menata ulang mimpi itu dari awal tanpa kaumeminjamkan pundakmu saat aku menangis. Lalu, untuk apa kata cinta itu kauperdengarkan, jika kauTak bisa menjadikanku satu-satunya wanita yang kaucintai? Jika kauhanya bisa menyembunyikanku dari sorotan dunia? Jika kauhanya menutup-nutupi cerita kita dari istrimu?
Kita sering berkhayal dan bermimpi, khayalan yang akan membuat aku dan kamu tertawa lepas, berbagi tawa dan bahagia dalam sebuah ketakutan bahwa hubungan rahasia ini akan diketahui oleh seseorang selain kita berdua.
Selama ini, saat aku bersamamu, aku lupa apa arti cinta. Perasaanku mati untuk merasakan bahagia. Aku terbiasa dengan perasaan sakit yang kubuat sendiri, aku terbiasa dengan kelakuanmu yang kadang tak menganggapku ada. Kamu terlanjur membuatku percaya, bahwa cinta adalah kesabaran menjadi orang ketiga. Aku terlalu lama menyiksa diriku sendiri, hanya untuk mengharapkanmu, kamu yang tak pernah menganggap perasaanku ada dan nyata. Aku juga ingin bahagia, seperti kamu dan istrimu. Aku ingin bahagia, tanpa harus bersembunyi dan dikejar rasa ketakutan.
Aku ingin bahagia. Dan jika bahagia berarti melupakanmu, akan terus aku coba untuk melakukannya. Aku percaya bahwa sesuatu yang dipersatukan oleh Tuhan tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Aku percaya bahwa hubungan yang telah dikuduskan oleh Tuhan tidak dapat dinodai oleh manusia. Aku ingin mengakhiri semua dosa ini. Jadi, biarkan aku jatuh cinta pada seseorang selain kamu, yang akan mengutamakanku dalam berbagai hal, yang tidak akan menyembunyikanku dari sorotan mata dunia, dan yang akan memayungiku saat hujan mencoba menggelitik manja tubuhku. Jika bahagia berarti melupakan bayangmu yang terhisap kangen tadi malam, akan aku lakukan.
Istrimu berhak mendapatkan kesetiaanmu, dia tentu bukan wanita yang kau nikahi dalam ketergesa-gesaan. Cintailah dia seperti pertama kali cinta itu ada dan menggetarkan hatimu dengan luar biasa. Percayalah, aku akan menemukan bahagia. Kita akan bahagia dalam jalan kita masing-masing, tanpa harus menyakiti pihak lain, tanpa harus menyangkal Tuhan yang menyebabkan cinta itu ada.

Dwitasari :): Karena cinta dunia maya, tak butuh LOGIKA

Dwitasari :): Karena cinta dunia maya, tak butuh LOGIKA

"Cinta bisa berada di manasaja. Bahkan di dunia maya, tempat yang kadang tidak diperlukan logika untuk melogiskannya." - Karena cinta dunia maya, tak butuh LOGIKA

Aku tahu sejak awal bahwa cinta kita langka. Cinta yang jatuh sempurna pada titik yang tak diduga. Cinta yang tercipta dari setiap karakter tulisan yang terbaca. Cinta yang menjelma menjadi nyata dan menggerogoti aku dan kamu, kita.
Apakah ini bisa disebut cinta? Saat hanya namamu selalu kueja dalam hatiku, walaupun aku belum pernah memandang matamu. Apakah ini bisa disebut cinta? Saat aku merindukanmu, walaupun jemari kita belum saling menggenggam hingga detik ini. Apakah ini bisa disebut cinta? Saat frekuensi suara tangismu mengalir melalui mahluk tak berdenyut arteri bernama handphone itu.
Seberapa pentingkah perjumpaan nyata buatmu? Aku hanya bisa mereka-reka, seberapa dalam perasaanmu padaku. Aku hanya bisa mengira-ngira, seberapa dalamkah virus yang kita sebut cinta itu menggerogoti hati dan pikiranmu. Yang aku tahu, cerita kita ada, walaupun begitu langka.
Mereka mengatakan bahwa perjumpaan nyata itu penting dan harus. Ya, karena tidak mungkin kita hanya bertahan pada suara lembut yang menggugat sepi dan huruf-huruf yang terangkai manis itu. Mereka bilang dunia maya itu abstrak, semua yang berada di dalamnya selalu dipertanyakan kenyataannya. Tapi, bukankah cinta itu bisa datang darimana saja, bahkan dari jejaring sosial yang terlihat sepele dan mengenaskan itu.
Kita memang tak bisa memungkiri keadaan. Ada sekat jarak ratusan kilometer yang membatasi aku dan kamu. Ada gemerisik rindu yang berteriak keras; jelas dalam hatiku untuk segera menemuimu, merasakan sinar matamu, dan hangat jemarimu saat menggenggam celah-celah jemariku.
Walaupun kamu jauh, aku tetap bisa menyentuhmu melalui doa. Walaupun kamu jauh, aku tetap bisa merasakan rindu yang begitu hebat mengobrak-abrik isi otakku sehingga bayanganmu semakin melebar dan membesar. Walaupun kamu jauh, kita tetap dapat melihat bulan yang sama, sayangnya aku dan kamu menatapnya dari tempat yang berbeda.
Persiapkan dirimu saat perjumpaan nyata nanti. Akan aku ceritakan padamu bahwa cinta tak selalu melalui pandangan mata, cinta tak selalu ada karena perkenalan lama, cinta tak selalu tercipta karena perawakan nyata, cinta bisa berada dimanasaja. Bahkan di dunia maya, tempat yang kadang tidak diperlukan logika untuk melogiskannya.

Dwitasari :): Agamamu. Agamaku. Satukan Kita?

Dwitasari :): Agamamu. Agamaku. Satukan Kita?
Kelas Biologi, 2 Februari 2012

Semalam suaramu mengalir begitu lembut melalui sambungan telephone. Entah sudah berapa minggu kita tak bertemu. Entah sudah berapa hari aku dan kamu (terpaksa) tak saling memandang dan menatap. Karena takdir sedang mainkan perannya, karena nasib teguhkan langkah kakinya. Aku dan kamu tak bisa apa-apa, terutama saat semua orang menganggap kita salah. Terutama saat aku dan kamu dianggap sebagai pelanggar norma agama, saat kita layaknya tahanan cinta yang menyerah pada hukum agama. Terang tak dapat bersatu dengan gelap.
Kauingin tahu satu hal tentangku? Aku sangat merindukan kamu. Aku rindu saat kamu menungguku di depan gereja seusai misa pagi. Aku rindu saat kita makan mie ayam kesukaan kita. Aku rindu saat menunggumu selesai salat Jumat. Kamu semakin terlihat tampan ketika air wudhu membasuh lembut wajahmu, aku sangat suka senyummu yang tersimpul malu di balik bibirmu. Sungguh, aku sangat rindu pertemuan kita, aku rindu menghabiskan waktu bersamamu. Dan... Entah mengapa kebahagiaan itu menjadi tampak semakin pudar akibat orang-orang yang bahkan tak mengenal dan mengerti kondisi kita. Maukah kaukatakan pada mereka yang membenci kita? Bahwa sebenarnya kita bukanlah seorang pendosa. Maukah kauyakinkan mereka? Bahwa aku dan kamu tak sehina yang mereka pikirkan. Haruskah kita mengakhiri semua ketika nyatanya bahagia selalu menghiasi kebersamaan kita? Haruskah kita menyerah pada persepsi yang mengatakan bahwa kita bersalah? Haruskah kita berpisah karena berbeda agama? Apa salahku dan salahmu?
Aku mengenalmu sebagai sosok yang sangat gigih. Kamu juga mengenalku sebagai sosok yang tegar. Selama kita bersama, tidak pernah terlihat air mata kita jatuh setitikpun. Tapi... Ternyata pada akhirnya kita menyerah, menyerah pada takdir yang awalnya mempertemukan kita juga yang memisahkan kita. Apakah hatimu patah? Apakah sayap-sayapmu yang dulu sempat memelukku juga patah? Apakah ada tangis yang luruh dari matamu yang indah? Aku tak tahu mengapa norma agama harus membedakan kita, sehingga aku dan kamu memiliki sekat dan jarak, membuat kita terlihat tak lagi sama, membuat kita (terpaksa) berpisah. Sebenarnya, apa salahku dan salahmu? Kita tidak pamer kemesraan seperti pasangan-pasangan tolol lainnya, kita juga tak membuat video mesum sebagai sebab terjadinya zinah, kita tak melanggar norma asusila, tapi mengapa di mata semua orang kita terlihat seperti sampah?
Sayang, sungguh aku tak ingin terus tersiksa seperti ini, sungguh aku tak ingin perpisahan kita menjadi sebab tangismu dan tangisku. Aku ingin semua kembali seperti dulu. Aku ingin tawa renyahmu dan senyum manismu menghiasi mozaik hari-hariku. Kebahagiaan kita terenggut oleh sesuatu yang kita sebut norma, sesuatu yang seharusnya mengatur tapi malah menyakiti kita. Sebenarnya, mereka yang menyalahkan kita adalah mereka yang tak benar-benar mengenal kita. Tugas cinta adalah menyatukan, lalu salahkah cinta jika dia menyatukan kita yang berbeda? Bukankah kita hanya saling jatuh cinta? Bukankah kita hanya mahluk kecintaan Tuhan yang belajar untuk menyentuh cinta? Apa yang salah, Sayang?! Katakan apa yang salah!
Aku menulis surat ini sesaat sebelum pengakuan dosa. Pastor sudah berada di dalam ruangan, aku masih di luar, sedang menormalkan frekuensi detak jantungku yang kian menit kian tak berirama. Dengan menulis ini, mungkin aku bisa merasa sedikit tenang. Aku mungkin akan bercerita banyak pada pastor, air mataku mungkin akan kembali menetes, dan berkali-kali mungkin aku akan mengulang cerita yang sama, cerita tentangmu. Di dalam ruang pengakuan dosa, aku pasti mengakui banyak dosa yang telah kulakukan. Dan... Mungkin dosa yang kuakui pertama kali adalah mencintaimu. Mencintaimu... Dosa termanis bagiku.

Dari masa lalumu
Rumah untuk tawa dan tangismu

Maybe you...


akankah kau melihat?
setiap tetes air mata ini...
yang terjatuh hanya untukmu...

akankah kau peka?
pada setiap getaran yang kita rasakan

akankah kau peduli?
pada setiap perhatian yang kuberikan

"saya hanya kasihan melihat anda yang mencintai orang lain, namun setiap usaha anda selalu diabaikan olehnya, tetapi saya lebih kasihan melihat anda yang tidak sadar, bahwa ada saya disini yang mencintai anda dengan tulus, ikhlas, namun diabaikan. Saya memang tidak secantik dia, tetapi saya bisa membuat semua tangis sedih anda, menjadi tangis kebahagiaan"

Kita berbeda...


Hanya karangan fiksi dari buah pikiran seorang remaja…, selamat membaca :’)



Pagi itu, semua anak sibuk mengambil ijazah masing²…tak terbesit di benakku, hari itu adalah hari terakhir aku melihat sosoknya, dan setelah itu, mungkin aku takkan bisa melihatnya lagi.. dia beda SMA denganku, dan bodohnya aku sangat tidak peka…

Jika mengingat percakapan absurd itu, seolah² banyak kupu² menari di perutku dengan lincahnya, ku hanya tertawa sesaat ketika mengingat kata²nya saat meledekku, dan ku terlempar keras dari tidur panjangku selama ini….

Lucu..mungkin sangat lucu, Tuhan mungkin akan tertawa jika melihat kita diam² saling mendoakan, tapi menyebut nama Tuhan dengan panggilan berbeda…

Ku memanggil-Nya dengan sebutan Allah, dan kau memanggilnya dengan sebutan Jesus. Kita saling mendoakan satu sama lain, tapi menyebut nama Tuhan saja sudah berbeda. Jika ku bisa melihat Tuhan, mungkin Tuhan sudah tertawa keras melihat kita.

Kita berbeda sayang…,aku mengadahkan tangan, dan kau mengepalkan tangan saat kita bertemu dalam doa. Kita berbeda dalam segala hal, Tuhan mungkin saja tertawa, bagaimana dia bisa merestui perasaan kita?

Kita seolah² tak memandang perbedaan ini, tapi lihatlah! Tuhan mentertawakan kita, apalagi teman²ku? Mereka bahkan menganggapku gila, dan berharap aku tak pernah punya perasaan terhadapmu. Tapi bagaimana menyingkirkan perasaan ini?
Tujuan ibadah kita saja sudah berbeda, aku ke mesjid, dan kau ke gereja, kita tak sejalan rupanya…

Tapi bagaimana? Ku bahkan dengan bodohnya mendoakanmu setiap hari, bercerita kepada Tuhanku tentangmu, mungkin Tuhanku bosan karna setiap hari harus mendengar semua hal tentangmu yang memanggil-Nya dengan sebutan berbeda, atau sebelum ku bercerita, Tuhanku sudah tertawa kencang, dan aku harus bagaimana kasih?
Aku membawa zikir, dan kau membawa salib, bagaimana ini? Tuhan meledek kita…..
Ku sering melihat teman²ku pacaran beda agama, bahkan aku mentertawakannya, menganggap hal itu sebagai bahan gurauan, tapi sekarang lihatlah?

Aku berada di posisi seperti itu, dan kesalahan fatalnya, kita saling jatuh cinta, dalam jurang perbedaan, ku bahkan bingung harus kuapakan rindu yang meluap² setiap harinya, kita memang sering bertemu di mimpi dan di dalam doa, tapi aku malu dengan Tuhanku…dia mentertawakan kita sayang, aku bahkan sempat bertanya ke Tuhanku, mengapa kita berbeda dalam segala hal? Aku tak mendengar jawaban Tuhan…
Tuhan memang satu, tapi dalam memanggilnya saja kita sudah berbeda kasih…
Entahlah, aku hanya menunggu jawaban Tuhanku, entah sampai kapan Tuhanku akan menjawab doaku, aku akan menunggu jawaban Tuhanku…

just say it..


“udah, kamu gausah perduliin aku, biarin aku sakit disini,kamu seneng² aja sama dia” –kata hati seorang selingkuhan

“”ya Tuhan, jika aku tak diizinkan menjadi pacarnya, maka izinkanlah aku menjadi temannya…” –kata hati seorang pengagum rahasia

“Ya Tuhan, buatlah hatinya menjadi peka dengan rasa rindu ini…” –kata hati seorang LDR

“hatiku seakan hancur berkeping², melihatmu bersamanya, sampai² aku tak sempat memungut retakan demi retakan hatiku yang berserakan…” –kata hati seseorang yang diselingkuhin

Dunia Khayalan


Saat mata ini terpejam…
Jiwa ini seakan dibawa kembali…
Pada sebuah lembah ingatan…
Pada tiap irama kenangan…
Yang berhembus lembut di telingaku..
Pada tiap lembar memori..
Yang seolah-olah menari-nari di fikiran
Pada sebuah bayang..
Yang seolah tak berhenti berlari-lari…
Yang seakan memabukkan jiwa..
Pada setiap bait kata demi kata…
Pada setiap canda yang mengikuti…
Seolah semua tlah kau ukir rapi…
Seakan kau yang telah menatanya…
Seolah semua sudah direncanakan..
Dan semua itu, berhasil membuatku, keluar dari kenyataan hidup…

Tolong…aku tenggelam!
Dalam khayalan yang mematikan ini…
Yang seakan membunuh jiwa…
 yang seolah membawaku..ke dunia yang tak pernah ada,
Ke dunia yang terlalu indah..
Yang tak pernah ada dalam skenario-Mu…
Jiwa ini kosong, hanya penuh dengan khayalan…

Bantu aku kasih!
Keluar dari bunga tidurmu!
Bantu aku bangun! Buka matamu!
Pahit..keluar dari dunia itu..
Pahit..melihat dunia nyata seolah mengguncang ragaku!
Seolah dunia menaparku dari khayalan…
Hadapilah kasih, hadapilah!
Jadikan khayalanmu itu sebagai fakta, jangan hanya opini belaka!
Dia ada, karena jiwa yang kembali menggulung kenangan, dan menjaganya…
Agar tak habis dimakan waktu…

creation: Fitri Larasati
"Keterikatan aku dan kamu tak ada dalam
status, tapi jiwa kita, napas kita, kerinduan
kita; miliki denyut dan detak yang sama." - @dwitasaridwita

Kita hanya...


Kita hanya…
Sepotong kecil…
dari serpihan kehidupan…
yang berusaha bertahan,
dalam dimensi perbedaan,
yang terbentang luas…
dalam kelambu keyakinan…
diantara rantai agama…
dalam fatamorgana perasaan…

Kita hanya…
Sepotong kecil dari serpihan “Skenario Tuhan”
Yang berusaha terus berjalan…
Mengikuti jejak perasaan…
Meskipun kita tak tahu, akhir dari sebuah “Skenario Tuhan”

Kita hanya…
Sepotong kecil dari serpihan jejak...
yang berusaha bertahan…
Dari gelombang ketidakyakinan…
Dari kejamnya naluri manusia, yang mematikan kepercayaan kita…
Dari guncangan ketidakpekaan…
Yang perlahan membunuh
perasaan kita…


creation: Fitri Larasati

Melodi Tiga Cinta

Kalau nanti malam kamu menghadap Tuhan
Tolong tanyakan pada-Nya
Berdosakah aku
Karena terlalu berharap akan cintamu


Akankah kau abaikan cinta ini
Sebab cara penyembahan kita kepada Tuhan berbeda?

Kalau cinta ini sebuah kesalahan...

Kan ku gugat Tuhan
Sebab telah meletakkannya di hatiku
Dan pasti kan kutanyakan pada-Nya
Sungguhkah Dia yang memerintah anak Adam
Tuk mengisi kotak-kotak agama hanya untuk berbeda?
Aku tak mendengar jawaban Tuhan

Apakah kau mendengar?

Tolong perdengarkan kembali kepadaku
Agar dapat kupahami mengapa Tuhan
Menghadirkan cinta bersama manusia
Padahal dia tak mengenal ruang
dan melintas melewati semua garis perbedaan...


,Tertanda
     TN
source: Melodi Tiga Cinta

Quotes☺


Jatuh cinta padamu…
semudah mata melirik…
menghalaunya…
seperti membuka mata, saat kantuk berat menguasai…
melenyapkannya…
seperti hendak menghancurkan batu karang, dengan kepalan tangan…

tapi jatuh cinta padamu…
semudah bernafas.
Mencegahnya…
Sesulit sang buta melihat langit.
Melenyapkannya…
Seperti hendak menelan diri sendiri.

source: Melodi Tiga Cinta
Menyedihkan adalah: "ketika kita dengan tulus mencintai seseorang,tapi kita hanya bisa mencintainya dalam hati"