Sebuah Elegi Tentang Rindu

Oleh Ayub Ryan p
Entah bagaimana Tuhan menciptakan rindu
sebab yang kurasa hanya sendu
kemudian hanyut menjadi debu
Yang dibawa gelombang biru
Mungkin dari pilu Ia ciptakan rindu
Kemudian dianyam pakai sembilu
Berubah jadi alunan puisi nan syahdu
Yang melantun bahkan saat lindu.
Beruntung Tuhan menciptakan rumah bagi rindu
Agar ia bisa pulang, melabuhkan keluh
Meski akan kembali bersauh,
Meninggalkan sekotak gemuruh.
Sayangnya, rindu tak pandai berhitung
Parahnya lagi, ia selalu curang
Semakin lebar jarak, semakin cepat debar jantung
Selalu bertambah porsinya, tak jua berkurang
Nahas, rindu juga bikin candu
Lebih dari sebatang rokok yang biasa kuhisap
Makin jarang berjumpa semakin rindu
Makin sering berjumpa semakin meresap.
Aku harap semua rindu menemukan rumah
Agar tak jatuh korban; sebab rindunya tersesat tak bisa pulang
Aku harap rindu ini juga punya rumah
Agar tak harus kubakar bersama arang
Semoga kita tak berakhir menjadi sepasang rindu
Yang saling melepaskan diri dari rasa candu.
Yang pernah mengisi relung hati, 8 Juli 2014. Bencilah aku sebisa yang kau mampu. Rasakan rinduku menyayat perih hati. Seperih apapun, ku tetap mencintaimu. Relakan kasih, lepaskanlah. Agar kau tenang.

Tidak ada komentar: